Gunung Slamet, sebuah gunung tertinggi di jawa tengah dengan elevasi 3.428 mdpl, terletak di sekitar tengah pulau jawa utuk masuk kedalam wilayah administrasi kabupaten Banyumas, Purbalingga, Brebes, Tegal dan Pemalang. gunung ini sarat dengan cerita cerita folklore yang bisa kamu cari sendiri di internet, mulai dari kaitan letusan dengan pemilu di negara kita,Mbah Semar, dan sebagainya yang menarik untuk ditelaah dalam kaitanya dengan falsafah perjalanan hidup manusia. sementara dengan puncak tertinggi di jawa tengah dan kawasan ngarai dan lembah di sisi pendakian serta hutan tropis dengan pohon pohon besarnya yang memberikan keteduhan, kehidupan bagi penghuninya akan memberikan sensasi yang sedikit berbeda dengan gunung lain di jawa tengah.
![]() |
| view sindoro sumbing dari pos 5 gunung Slamet |
dimulai dari sebuah desa kecil di kaki gunung slamet yang menjadi pintu gerbang jalur pendakian gunung slamet yaitu jalur blambangan desa kutabawa kabupaten purbalingga sebuah desa khas pegunungan dengan pertanian sebagai mata pencaharian utama mereka, diwarnai dengan keramah tamahan dan udara yang sejuk membuat tubuh merasa akrab dengan kenyamanan yang ditawarkan dan ingin menghirup kembali udara dan suasananya kelak hari sebelum senja usia, sebuah romantisme pendakian yang menawarkan ketenangan dan badai sekaligus dalam sebuah perjalanan singkat.
ketika mencoba kembali menapak tilasi perjalanan dikala hidup berjalan tumbuh tidak lebih dari seperempat abad yang di sertai ke egoisan, nafsu dan semangat di utara desa yang saya tinggali selama 30 tahun. saya masih mengingat betapa bersemangatnya saya berjalan dengan cepat di awal perjalanan kala itu, sungguh membuat iri tubuh saat ini yang bahkan harus membrainstorm pikiran dan tekad yang terbiasa dengan frasa menurut dan mengalah di dunia nyata untuk mencari sesuap nasi untuk menghidupi diri sendiri dan pasangan hidup yang menemani, dimana kenistaan itu harus dibuang jauh dengan hubungannya sebuah keberhasilan perjalanan ke sebuah tempat tinggi, secara harafiah. paru paru yang penuh dengan sisa asap rokok dan uap alkohol serta otot yang tidak terbiasa berolahraga selama bertahun tahun, adalah tidak dapat diandalkan jika tidak mengeraskan tekad di otak agar berhasil. sudah terbayang betapa keras saya harus berusaha dari awal, sungguh melelahkan (bagi saya tentunya).
pada tanggal 02 oktober 2013 saya mulai menjejakan kaki dirumah sang juru kunci jalur blambangan, setelah membayar biaya administrasi sebesar Rp 5000. kami berempat beristirahat sejenak sambil menghembuskan rokok yang terasa sangat nikmat di tempat ini. setelah rokok telah habis kami packing ulang isi tas dan mulai berjalan menyusuri jalur yang mulai terhapus dari otak. dan benar saja sedari awal kami lupa dimana jalurnya dan dengan santai berjalan sampai bertemu anak kecil yang sedang bermain untuk kemudian anak kecil tersebut berkata bahwa kami salah jalur! kami pun kembali mengulang jalur yang dimana seharusnya kami belok ke kanan ketika memasuki ladang warga. setelah berjalan cukup jauh, kami terkejut karena posisi jalan yang memutar dan tempat yang pada waktu dahulu merupakan pos 1 sekarang sudah tidak difungsikan sebagai pos, pos 1 yang kin adalah pos 2 diwaktu dulu. jadi sekarang untuk menuju pos 1 kami harus berjalan lebih jauh.
selama berjalan beberapa jam sambil berhenti setiap 2 menit kami akhirnya sampai di pos 5 dan mulai mendirikan tenda untuk beristirahat. karena posisi pendakian yang cukup sepi, kami hanya bertemu denga 1 rombongan pendaki waktu itu. jadi kami mendirikan tenda di dalam shelter pos 5.
![]() |
| Tenda dalam shelter pos 5 |
kesokan hari kami mulai melanjutkan perjalanan menuju puncak, berjalan dengan santai dengan tenda dan tas kami tinggal di pos 5, tapi jangan ditiru, karena tidak ada yang bertanggung jawab atas kehilangan. mulai pos 7 matahari sudah hangat dan saya sendiri cukup kaget dengan perubahan jalur dari yang terakhir ada di ingatan, jalurnya lebih menyiksa untuk badan ringkih seperti saya. dimana untuk mencapai plawangan saja sudah harus berusaha dengan keras. dengan step tanah yang terkadang berinterval hingga 50 cm dari elevasi sebelumnya, untuk terus berjalan tanpa berhenti dalam 5 menit saja sudah menjadi neraka bagi saya.
di plawangan kami beristirahat sebentar setelah melewati jalan berdebu dan berpasir di musim kemarau. debu yang menempel di rambut tercampur keringat dan embun telah menjadikannya lengket dan susah di bersihkan. kami mulai berjalan kembali menyusuri jalur plawangan yang saya rasa krikilnya sudah semakin sedikit. setelah kurang lebih menyusuri jalur berbatu dan kerikil selama setengah jam. akhirnya kami sampai di puncak yang tiap kali pendakian selalu berbeda. mulai dari foto tahun 2006 berikut
![]() |
| puncak Slamet '06 di jalur selokan lahar |
dan di tahun '13
![]() |
| Puncak slamet di posisi yang sama tahun 2013 |
sungguh setelah mencapai puncak kembali, saya merasa bahwa ini tempat yang menyenangkan sekaligus berbahaya. jauh dari hingar bingar perkotaan, sejuk sunyi, tapi tetap harus waspada bahaya belerang dari kawah. tempat yang cocok untuk merenung dan menapak tilasi perjalanan hidup yang telah kita lewati, sejenak melupakan masalah masalah dengan usaha survival di negeri yang mulai kehilangan identitas dan nurani. indah....
![]() |
| padang edelweiss |
![]() |
| view from plawangan |
![]() |
| pendakian plawangan |







0 comments:
Post a Comment